Print Friendly and PDF

Mendag Tutup Ekspor Bahan Baku Rotan, Nilai Ekspor Produk Rotan Capai USD 27 Juta

  February 22, 2012. Category: headline

Mendag Tutup Ekspor Bahan Baku Rotan, Nilai Ekspor Produk Rotan Capai USD 27 Juta

Mamuju, 21 Februari 2012 –Kebijakan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan yang  menutup keran ekspor bahan baku rotan mulai terlihat hasilnya. Mendag bersama Menteri  Perindustrian RI M.S. Hidayat dan Menteri Kehutanan RI Zul kifli Hasan hari ini, Selasa (21/2),  meninjau sentra penghasil bahan baku rotan di Mamuju, Sulawesi  Barat.

Sebelumnya, Mendag pernah menyatakan bahwa Kemendag mengenai penutupan ekspor  bahan baku rotan akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Hal ini terbukti  karena dalam kurun waktu 1 bulan 19 hari (sejak Permendag dikeluarkan hingga hari ini – 21/2), nilai ekspor produk rotan ternyata mampu mencapai USD 27 juta. "Angka ini hampir  setara dengan nilai ekspor bahan jadi rotan selama 12 bulan sebelumnya (2011), yaitu sebesar USD 32 juta,” ungkapnya.

Peningkatan nilai ekspor tersebut merupakan bukti keberhasilan kebijakan hilirisasi rotan. “Jadi kami bukan anti ekspor. Kami hanya ingin agar yang diekspor bukan bahan baku rotan, melainkan produk rotan jadi yang telah memiliki nilai tambah," ujarnya. 

Pertumbuhan ekonomi Sulbar yang meningkat hingga 10,41% pada 2011 juga menunjukkan  bahwa  kebijakan  penutupan  ekspor  bahan  baku  rotan  berdampak  positif  terhadap  perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sulbar sebagai daerah penghasil rotan.

 Mendag, Menperin dan Menhut satu suara dalam kebijakan rotan ini. Ketiganya sepakat  untuk membangun dan mengembangkan sentra industri rotan di daerah penghasil rotan.  “Kami ingin sentra produksi dibangun secara merata di luar Pulau Jawa, terutama yang dekat dengan daerah penghasil rotan,” tegas Mendag.

Komitmen pemerintah Indonesia dalam mengembangkan hilirisasi rotan di luar Pulau Jawa  dapat dilihat dari peningkatan investasi untuk pembangunan sentra industri rotan di luar  Pulau Jawa dari 33% pada 2010 menjadi 41% pada 2011.

“Potensi  ekonomi  Sulbar  sangat  luar  biasa.  Kami  yakin  dengan  adanya  peningkatan investasi di provinsi ini, maka akan mendorong pertumbuhan ekonomi di koridor Sulawesi. Pada akhirnya, semua ini akan bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Sulawesi,” ujar Mendag.

Pada kesempatan ini, Mendag menghimbau kepada para pengusaha rotan agar lebih memperhatikan desain agar produknya menjadi lebih kompetitif. Untuk dapat bersaing dengan produk rotan negara lain, desain harus dibuat lebih bervariasi dan menyesuaikan dengan selera pasar.

 “Investasi yang meningkat harus didukung oleh kreativitas para pengusaha rotan dalam hal membuat desain. Faktor ini tentunya akan membuat industri rotan Indonesia menjadi lebih berkesinambungan,” kata Mendag.

Selain desain, para pengusaha rotan dihimbau juga agar memperhatikan faktor ramah lingkungan,  misalnya  mengembangkan  teknik  pemotongan  yang  dapat  mendukung kelestarian tumbuhan rotan.

Kunjungan kerja tiga Menteri ke Provinsi Sulawesi Barat ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan para Menteri tersebut dengan para Gubernur dari Sulawesi, termasuk Gubernur Sulawesi Barat, ada Oktober 2011 yang lalu untuk membicarakan kebijakan rotan dan kakao.

Hasil pertemuan tersebut dan kunjungan Mendag ke beberapa sentra industri rotan di Kota Cirebon pada 2011 yang lalu, serta dukungan dari beberapa Gubernur daerah penghasil dan produksi rotan, dilatarbelakangi dibuatnya kebijakan terkait penghentian ekspor bahan baku rotan tersebut. 

Sumber Pusat Humas Kementerian Perdagangan